Sayangi Hutan agar Sungai Terus Mengalir Gerakkan Kincir
Tahun 2006 Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) beroperasi di Dusun Tem'bak, Desa Gurung Mali, Tempunak Hulu. Tujuh orang berswadaya merintisnya. Hutan mereka jaga agar air sungai bisa terus menggerakkan kincir. Bagaimana ceritanya?
Sutami, Gurung Mali
Listrik menyala 24 jam di Gurung Mali. Fasilitas penerangan dinikmati masyarakat berkat dikembangkannya Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Empat unit Pembangkit yang sudah dibangun. Dua unit menggunakan tenaga kincir dan dua unit lagi memakai turbin. 
Semula hanya satu unit PLTMH di Gurung Mali, tepatnya di Dusun Tem'bak. Tujuh warga setempat menginisiasinya. Mereka berswadaya menyiapkan material dan membangun jaringannya. Ketujuhnya adalah F Nayau, Apoi, Sinko, Hisako, Urbanus Noh, Yordanus Jang Dasen, dan Supardi.
Perancangan membuat PLTMH merupakan hasil rembuk di kediaman F Nayau. Kincir yang dipilih sebagai penggerak adalah tenaga air. Apoi yang mendesain gambarnya. Inspirasinya usai melihat tayangan di televisi. 
Dengan modal kemauan, PLTMH mampu diwujudkan F Nayau bersama enam anggota kelompoknya. Listrik bisa menyala berkat kincir yang digerakkan dari aliran sungai Filing. Saat itu paralon sumber air ke kincir berukuran empat centimeter. Cuma tegangan atau voltase listrik yang dihasilkan masih kurang maksimal. Akhirnya diputuskan diganti dengan pipa ukuran dua kali lipat lebih besar.
Perjuangan berat harus dilalui Nayau bersama rekannya sebelum PLTMH menerangi kediaman mereka. Segala material dibeli dengan utang. Nayau menjadi penjamin ke toko memastikan utang pasti akan dibayar. Beruntung pemilik toko setuju. 
Utang dibayar secara urunan. Setiap anggota diwajibkan mengumpulkan 30 kilogram karet tiap bulannya selama setahun. Penjualan karet yang dikumpul ternyata belum cukup membiayai pembayaran utang. Menutupinya ketujuh warga Dusun Tem'bak itu kembali menggalang urunan. Masing-masing dibebankan mengumpul uang Rp600 ribu.
Selama tiga bulan waktu dihabiskan Nayau beserta anggotanya menyelesaikan pembangunan PLTMH. Mereka bekerja gotong royong membuat bendungan. Membangun rumah buat kincir dan saluran airnya, berupa parit. Kedalaman parit dibuat setengah meter dengan lebar 40 cm, yang panjangnya mencapai 200 meter. "Semua dikerjakan dengan manual," kata Nayau.
Semula gotong royong pengerjaan PLTMH dijadwalkan dua kali dalam seminggu. Cuma demi mempercepat penyelesaiannya dikebut menjadi setiap hari. Peningkatan masa pengerjaan termotivasi ingin segera menikmati listrik. 
Fasilitas pendukung PLTMH dibuat seadanya di awal. Bendungan yang dibuat jauh dari permanen. Cuma tumpukan-tumpukan pasir yang diisi ke dalam karung. Layaknya benteng pertahanan. Sementara jalur buat mengalirkan air dari bendungan menuju parit dibuat dari bahan kayu. 
Kincirnya juga dibuat dari bahan kayu. Sementara perumahan buat kincir bukan dalam bentuk bangunan. Hanya ditutupi dengan tarpal. Sebelum kemudian dibenahi pada 2008. Kincir diganti dengan besi. Perumahan untuk generator juga dibangun berukuran 2×3 sekaligus diatapi dengan seng. 
Aksi Nayau bersama anggotanya rupanya menginsipirasi warga lain. Empat bulan kemudian muncul warga juga dengan berkelompok ikut membangun PLTMH. Hingga kini semua warga Gurung Mali mampu secara mandiri mengatasi persoalan listrik. Di mana untuk dusun Tem'bak dihuni sekira 70-an KK, sementara penduduk desa Gurung Mali keseluruhannya mencapai 150-an KK.
Nayau merasakan langsung kalau PLTMH adalah energi listrik dengan biaya murah. Berbeda dengan tenaga diesel kalau memakai genset. Setiap malam harus mengeluarkan biaya untuk pembelian bahan bakar. Tidak cukup satu liter satu malam. Kemudian juga menimbulkan kebisingan. Sementara PLTMH tidak menimbulkan bunyi sama sekali. 
PLTMH juga tidak memerlukan perawatan khusus. Kecuali sebatas membersihkan air di saluran menuju kincir. Itu saja. Pekerjaan yang tanpa modal. Dan tidak memberatkan. Tanggung jawab itu menjadi beban untuk Nayau dan anggota kelompoknya. 
Nayau tidak berhenti hanya sebatas membangun PLTMH. Kerja keras bersama keenam kawannya tidak ingin menjadi sia-sia. Mereka sadar ketersediaan air erat kaitannya dengan hutan. Komitmen menjaga kelestarian hutan dirawat secara kearifan lokal. 
Satu sama lain saling mengingatkan dan menjaga agar terbangun tanggungjawab bersama, walau tidak dituangkan secara tertulis. Karena itu, tidak mengherankan di areal PLTMH milik Nayau dan anggotanya  hutan primer terjaga dengan baik. Bahkan pohon-pohon baru banyak ditanami di areal PLTMH. Seperti gaharu, termasuk tumbuhan yang menghasilkan. "Jengkol juga ada ditanam," katanya.
Nayau merinci setidaknya terdapat empat lokasi hutan primer dikampungnya. Hutan Ribang Ayau seluas 53 hektare, hutan jalan ramut seluas 10 hektare, hutan sungai Engkang ratusan hektare luasnya, dan hutan Gulung Kapit seluas 2,5 hektare. Kayu Mengkirai, Meranti di antarnya isi dalam hutan itu. "Semua masih terjaga dengan baik," kata Nayau.
Karena itu, ekspansi perusahaan perkebunan kelapa sawit yang ingin membuka lahan di Gurung Mali selalu ditolak. Periode 2008 hingga 2013 dirasakan upaya ekspansi paling gencar. Warga berupaya penuh supaya ekspansi dibatalkan. Dengan dukungan berbagai pihak, termasuk kalangan NGO yang konsen di bidang lingkungan membuat kawasan Gurung Mali bebas ekspansi perkebunan kelapa sawit hingga kini. 
"Sudah harga mati mau menjadi kades harus menolak investasi perkebunan atau merusak lingkungan. Ini sudah menjadi kesepakatan warga," katanya.
Penolakan terhadap ekspansi perkebunan  sawit bukan antipati terhadap investasi. "Tapi komitmen menjaga lingkungan," kata Nayau.
Nayau bercerita penolakan warga Gurung Mali juga pernah dilancarkan untuk ekspansi perusahaan perkayuan saat ingin investasi pada era orde baru silam. Puncaknya pada 1997 warga Gurung Mali berdemo ke kamp perusahaan perkayuan. Aksi protes warga bahkan berujung menimbulkan insiden. Abangnya, Antonius Lambung bahkan sampai dipanggil Pemkab Sintang, saat itu. 
Perjuangan masyarakat berhasil. Perusahaan kayu gagal ekspansi ke Gurung Mali. Masih di tahun 1997, bahkan masyarakat dijanjikan PLTMH. Cuma gagal. Karena, pemerintah hanya menyediakan material sementara fasilitas pendukung seperti bendungun masyarakat diminta membangun sendiri. Padahal masyarakat sempat menyambut suka cita rencana PLTMH dibangun.
Tahun 2001 sempat kembali muncul wacana pembangunan PLTMH. Sumber airnya dari sungai alam. Nayau ditunjuk jadi ketua pembangunannya. Warga bahkan sudah sempat mengerjakan. Hasil pekerjaan juga telah dilaporkan ke kecamatan. Angin segar ikut diberikan pemerintah untuk memberikan bantuan. Cuma sayang kembali gagal.
Pembangunan PLTMH akhirnya bisa terwujud pada 2006 dengan dikerjakan swadaya. Dampak pembangunan PLTMH bukan hanya untuk penerangan yang dirasakan. Lima bulan setelah PLTMH yang dirintis Nayau dan anggotanya beroperasi,  kunjungan berdatangan ke Gurung Mali. Milton Crosby sebagai Bupati Sintang saat itu, ikut menyempatkan melihat PLTMH. Kemudian perwakilan berbagai kabupaten di Kalbar menyusul datang silih berganti untuk studi banding dalam pembuatan dan pengelolaan PLTMH. 
Tamu mancanegara juga mulai berdatangan ke dusun Tem'bak pada 2011. Kurun 2011-2013 bahkan mulai ada yang sengaja datang untuk sekolah alam. Mereka antara lain pelajar dan mahasiswa dari Jepang, Australia serta Eropa.
Rintisan Nayau dan anggotanya mengembangkan PLTMH ikut memunculkan kemajuan ekowisata. Seiring banyak tamu berdatangan ingin melihat kondisi hutan. Kedatangan itu secara tidak langsung menjadi pasar bagi tanaman buah yang dihasilkan masyarakat. Kerajinan tangan berupa boneka utang utan juga muncul. Bahkan sangat diminati tamu mancanegara. "Boneka urang utan sekarang ikon untuk oleh-oleh Gurung Mali," katanya.
Geliat dampak PLTMH kini betul-betul sudah berdampak bagi masyarakat Gurung Mali. Karena itu, Nayau menjadi kian termotivasi menjaga hutan agar kincir PLTMH yang dibangun tetap berputar. "Jaga air otomatis harus jaga hutan," kata Nayau.
Supardi ikut mengungkapkan hal serupa. Anggota satu tim dengan Nayau, yang merintis membangun  PLTMH menyebut hutan mesti dijaga bersama. Masyarakat setempat disebutnya sangat berkepentingan dengan kelestarian hutan karena merupakan penopang utama keberlangsungan PLTMH yang dibangun swadaya.
Ia turut mengenang betapa susah pembangunan PLTM dimasa awal. Dimana semua dikerjakan dengan swadaya. Pembelian material untuk PLTMH saja harus berutang. Tapi semua rasa terbayar dengan menyalanya listrik. 
Pemerintah Kabupaten Sintang sangat mendukung penuh masyarakat dalam pengembangan PLTMH. Sejalan dengan konsep energi hijau yang dicanangkan pemerintah. Energi terbarukan atau energi alternatif memang mesti dikembangkan. “PLTMH bagian terpenting energi terbarukan,” kata Bupati Sintang Jarot Winarno.
Pengoperasian PLTMH di Gurung Mali pada 2006, Jarot yang meresmikan, saat masih menjadi Wakil Bupati Sintang, yang berpasangan dengan Milton Crosby. Beragam pola pembangunan PLTMH di Sintang khususnya di Tempunak Hulu dan Sepauk. Masyarakat berswadaya mandiri. Kemudian swadaya serta dibantu lembaga keuangan. Dan, swadaya masyarakat kemudian pemerintah membantu peralatan.
Jarot menambahkan pada 2017 Pemkab Sintang ikut menganggarkan dalam pembangunan PLTMH di Gernis. Akselarasi berbagai pihak, lanjut dia, sangat dibutuhkan dalam mendorong pengembangan PLTMH. Baik pemerintah, swasta, dan masyarakat. 
Penggiat aktivisi lingkungan Sintang memandang PLTMH cara efektif menjaga kelestarian alam. Konservasi akan sangat terjaga. Ketersediaan cakupan debit air tetap membutuhkan keberadaan hutan. “Energi hijau (PLTMH)  banyak memberikan manfaat dan sangat cocok dikembangkan di Sintang. Ekosistem alam menjadi terpelihara,” kata Rayendra, ketua Sintang Freshwater Care (SFC).
Ia bahkan memandang pemerintah perlu memberikan edukasi kepada masyarakat dalam mengelola PLTMH. Sehingga kemandirian masyarakat dalam mendapatkan energi tetap terpelihara. Karena pemerintah secara tidak langsung sudah terbantu dalam menjaga konservasi dengan adanya masyarakat membangun PLTMH.
Terpisah, akademisi Universitas Kapuas Sintang Victor Emanuel menyatakan, komitmen nyata harus diberikan pemerintah kepada masyarakat yang mengembangkan PLTMH. Kearifan lokal warga dalam menjaga hutan juga perlu dilindungi. Regulasi jelas mesti dibuat pemerintah. Misal dibuat perda tidak memberi ruang investasi perkebunan masuk ke kawasan PLTMH. “Keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat menjadi sangat penting,” kata Dosen Hukum Unka, ini.
Sumber : http://www.pontianakpost.co.id
 
Top